My Digital Portofolio DAY 1 (Kehidupan Berbangsa, Literasi Keuangan, dan Peran Mahasiswa UNUSA dalam Membangun Bangsa)

 






Indonesia adalah bangsa yang begitu luas wilayahnya, kaya sumber daya alam, serta memiliki keberagaman yang luar biasa. Namun, sebagaimana disampaikan oleh Bung Karno dan Mohammad Hatta, besar kecilnya suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah atau kekayaan alamnya, melainkan ditentukan oleh kualitas dan karakter manusianya. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa maju seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok mampu bangkit bukan karena limpahan sumber daya alam, melainkan karena pembangunan kualitas manusia yang unggul, disiplin, dan berkarakter kuat. Oleh karena itu, Indonesia harus menempatkan pembangunan mutu manusia sebagai prioritas utama agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain di mata dunia.

Dalam konteks ini, keberagaman Indonesia merupakan sebuah kekayaan sekaligus tantangan. Dengan lebih dari 300 etnis, 700 bahasa daerah, keragaman agama, adat, hingga perbedaan lapisan sosial, bangsa ini membutuhkan titik temu yang bisa menyatukan. Pancasila hadir sebagai landasan bersama, yang mengikat seluruh keragaman melalui nilai-nilai persatuan, keadilan, musyawarah, dan ketuhanan. Seperti yang ditekankan oleh Bung Hatta, siapa pun yang ingin mengurus Indonesia harus memiliki keluasan mental, cara pandang yang lapang, serta karakter yang tidak sempit. Dalam era global saat ini, mahasiswa dituntut untuk memperluas jaringan, membangun silaturahmi lintas suku, agama, dan golongan, serta mengembangkan sikap inklusif yang mampu merangkul perbedaan sebagai kekuatan.

Selain aspek kebangsaan, mahasiswa juga perlu membekali diri dengan kemampuan literasi keuangan. Masa kuliah bukan hanya tentang belajar akademis, tetapi juga bagaimana melatih kemandirian, termasuk dalam mengelola keuangan pribadi. Literasi keuangan mencakup kemampuan mengatur pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan tabungan, hingga mulai berinvestasi sejak dini. Reksadana, saham, maupun tabungan berjangka adalah contoh instrumen yang bisa dipelajari mahasiswa untuk melatih kedisiplinan finansial. Dengan kemampuan literasi keuangan, mahasiswa dapat membangun masa depan yang lebih stabil, tidak mudah terjerat hutang konsumtif, dan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi global. Kemandirian finansial ini juga mendukung terciptanya mahasiswa yang lebih fokus dalam belajar dan berkontribusi bagi masyarakat.

Selanjutnya, dalam materi ketiga, Prof. Kacung Merjan menekankan pentingnya peran universitas sebagai pusat pengembangan diri mahasiswa. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) hadir dengan visi menjadi kampus yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan akreditasi yang terus meningkat serta pengakuan dari berbagai lembaga nasional maupun internasional, UNUSA membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mampu mencetak lulusan berkualitas. Mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik, tetapi juga diberikan ruang untuk mengembangkan potensi diri melalui organisasi, penelitian, dan kegiatan internasional.

UNUSA menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Mahasiswa diharapkan tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan berbagai program internasionalisasi, mahasiswa memiliki peluang besar untuk memperluas wawasan global sekaligus membawa nilai-nilai kebangsaan ke panggung dunia. Hal ini sejalan dengan semangat membentuk generasi muda yang tidak hanya bangga sebagai bagian dari Indonesia, tetapi juga mampu berkontribusi aktif dalam peradaban global.

Dengan demikian, ketiga materi tersebut saling melengkapi dan memberikan gambaran utuh mengenai peran mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Dari sisi kebangsaan, mahasiswa harus menjaga persatuan di tengah keberagaman. Dari sisi literasi keuangan, mahasiswa perlu melatih kemandirian dan kesiapan menghadapi masa depan. Dan dari sisi peran perguruan tinggi, mahasiswa mendapatkan bekal untuk menjadi individu unggul yang mampu bersaing di tingkat global. Jika seluruh aspek ini dipahami dan diinternalisasi, maka mahasiswa tidak hanya menjadi penuntut ilmu, tetapi juga agen perubahan yang membawa Indonesia menuju bangsa yang maju, mandiri, dan berdaulat.







Postingan populer dari blog ini

Resume Berita (Opening Ceremony 5th Brave Program: Angkat Isu Kesehatan dan Air Bersih Global)

Pra BToPH 4 (Basic Training Of Public Health)